Masihkah kau mencintaiku

Masihkah kau mencintaiku. Sekilas kalimat tersebut mengingatkan akan sebuah tayangan reality show yang mempertontonkan sebuah rumah tangga yang kurang harmonis. Rumah tangga yang dibangun selama bertahun-tahun sangat disayangkan rasanya bila harus berakhir.

Menyatukan dua sifat yang berbeda tidaklah mudah, makanya terkadang dalam sebuah rumah sering terjadi pertengkaran-pertengkaran kecil yang kadang bila tidak diselesaikan dengan berdiskusi justru menimbulkan konflik yang berkepanjangan bahkan hingga sampai ke perceraian.

Banyak pemicu rusaknya hubungan dalam rumah tangga. Pengertian dan saling memahami merupakan salah satu fondasi untuk pertahanan dalam mengarungi biduk rumahtangga.

Namun semua teori bisa porak poranda jika kita memiliki emosi yg tidak stabil. Bila seseorang lebih mengedepankan ego masing-masing tanpa mengindahkan dan mengutamakan kebersamaan maka rasa pengertian dan saling memahami akan sirna dibarengi rasa cinta yang juga akan memudar.

Kusnadi Ikhwani, konseling terapi mengatakan sebuah hubungan keluarga yang sudah mulai kurang harmonis sebaiknya dipertahankan terlebih dahulu, karena biasanya jika terjadi pertengkaran pada suami istri sering mengambil keputusan yang nantinya berbuntut pada emosi anak. "Makanya terkadang orangtua yang memutuskan untuk mempertahankan keharmonisan keluarganya dilandasi karena memikirkan efek buruk terhadap karakter si anak," terangnya pada Global, Senin (12/7).

Biasanya, lanjut Kusnadi, faktor penyebab sebuah keluarga menjadi tidak harmonis karena adanya rasa ketidakcocokan lagi, dan komunikasi yang tidak efektif. "Nah, hubungan keluarga yang seperti ini biasanya bermasalah tetapi karena tidak adanya keterbukaan masing-masing pasangan tidak mau jujur dan membicarakannya komunikasi pun jadi terhambat, dari situlah mulai muncul prasangka-prasangka negatif terhadap pasangan secara berlebihan," paparnya.

Lanjutnya lagi kalau sudah nampak masing-masing mempertahankan egonya dan saling ngotot itu pertanda keretakan rumah tangga sudah mulai dan jika ini berjalan dalam waktu yang lama tanpa ada perbaikan rumah tangga akan segera terbelah.

Namun kendatipun jika pasangan seperti ini mampu menyikapinya dengan bijak dan mencari solusinya maka keretakan rumah tangga bisa diatasi karena nantinya yang bakal jadi korban adalah anak. "Terkadang dengan adanya kehadiran sang anak orangtua yang bijak rela kembali berbaikan demi kebahagian dan karakter buah hati nantinya," bilangnya.

Sementara itu, Noor Iman, Owner/Principel dari Sanggar Cerdas juga berpendapat yang sama, dikatakannya keharmonisan dalam sebuah rumah tangga patutnya dipertahankan karena nantinya hal ini akan berdampak buruk sama anak. "Anak menjadi tumbal dari orangtua, maksudnya ketika sang ibu dan ayah tidak berpendapat hal yang sama justru mereka akan melemparkannya terhadap si anak," bilangnya.

Untuk itulah jika keduanya masih punya niat untuk mempertahankan keharmonisan rumah tangga mulailah dari niat untuk memperbaikinya. "Bisa dengan cara kembali mengulang masa lalu, masa-masa indah caranya bisa dengan berlibur senantiasa bersama dengan keluarga istilahnya napak tilas kembalilah," paparnya.

Hal senada juga diungkap Magdalena Siallagan. Guru PNS ini mengungkapkan dalam kehidupan berumah tangga, masa-masa tidak harmonis pastilah ada. "Tapi yang penting cara kita menyikapi semua permasalahan. Pertengkaran dalam rumah tangga adalah "bumbu", dari pertengkaran ini, kita bisa mengintrospeksi diri masing-masing. Sehingga bisa memuncul kembali rasa sayang kepada pasangan masing-masing,


source

0 comments:

Poskan Komentar

Template by : kendhin x-template.blogspot.com