Tradisi Sorogan di kebumen Lor

Musin panen telah usai, tetapi wajah Mbah lamkarta tidak tampak ceria. Pasalnya, padi hasil panen dari sepetak sawahnya hanya beberapa kuintal saja. Menyusutnya hasil panen tahun ini akibat serangan hama , disusul bencana banjir yang melanda desanya. Padahal sebagian hasil panen itu akan disimpan untuk cadangan pangan keluargaSebagian lagi akan dijual untuk menutup kebutuhan sehari-hari. Tetapi, hukum ekonomi tetap berlaku. Sehabis musim panen ini suplai padi (gabah) di pasaran meningkat tajam, sedang permintaan tidak bertambah.

Akibatnya harga pun anjlok. Celakanya lagi, hampir tiap hari Mbah lamkarta menerima kiriman sorogan dari warga desa yang hendak menyelenggarakan perhelatan. Memang, usai musim panen selalu disusul tradisi perhelatan keluarga seperti khitanan, perkawinan dan sebagainya. Tradisi sorogan atau pengiriman bingkisan makanan yang sudah membudaya itu mesti dibalas dengan sumbangan uang. Kalau tidak, namanya akan tercemar atau keluarganya akan terisolasi dari pergaulan sesama warga desa.
Tradisi sorogan di Kebumen sebelah lor dikenal sejak zaman baheula. Intinya, warga yang mampu sebelum perhelatan sengaja mengirim "upeti" makanan yang serba enak kepada pejabat atau orang terpandang di desanya.

Tujuannya sekadar ngabekti (penghormatan) dari kawulo alit (warga desa) kepada pangreh praja (pejabat) yang menjalankan roda pemerintahan desa. Tetapi tradisi sorogan yang berlaku sekarang nampaknya sudah jauh menyimpang - menjadi semacam undangan paksa. Pengiriman surat uleman (undangan) yang dulu berlaku kini lenyap, diganti nasi bungkus (nasi plus sayur-mayur sekadarnya) kepada warga desa lain yang (dianggap) dikenalnya. Ini pun tidak dipilah-pilah mana warga yang mampu menyumbang dan mana yang tidak mampu.

Selain itu, tujuan pengiriman sorogan itu juga sudah berubah, yakni pengundang mengharapkan imbalan (sumbangan) uang dari tamu yang hadir pada acara perhelatan tersebut. Celakanya, pengiriman sorogan itu selalu dilakukan mendadak, satu hari menjelang perhelatan. Hal ini jelas menyusahkan warga desa yang tak mampu. Tradisi buruk ini makin berkembang di desa saya , tanpa ada yang berupaya mencegah atau menghapus. Ini terutama terjadi di Kecamatan karangsambung, pejagoan dan sekitarnya.Tradisi kekeluargaan di desa memang masih kental, sehingga setiap warga yang diundang menghadiri perhelatan (berarti telah dikirimi sorogan) menjadi ewuh pakewuh untuk tidak hadir. Dengan berbagai cara ia akan hadir dan menyumbang, kendati uang yang akan disumbangkan diambil dari uang belanja keluarga, atau terpaksa ngutang dulu pada tetangga.

Tak jarang seorang warga desa yang miskin sekalipun, mendapat kiriman 2 - 3 bungkus sorogan sehari. Padahal tidak semua warga yang mengirim sorogan itu telah dikenalnya dengan baik. Jika tiap bungkus sorogan harus dibalas dengan sumbangan uang kontan Rp. 5.000, berarti dalam sehari warga yang menerima tiga bungkus sorogan harus menguras kantungnya Rp 15.000. Padahal sebagai buruh tani atau tukang becak misalnya, penghasilannya sehari terkadang hanya Rp 10.000, atau lebih kecil lagi. Data tertulis itu dianggap penting bagi yang punya gawe. Misalnya, suatu saat nanti ia diundang menghadiri perhelatan oleh Si Weru yang dulu menyumbang Rp. 4.000, ia pun akan menyerahkan sumbangan dalam jumlah yang sama. Demikian pula terhadap warga yang dulu menerima sorogan dan mereka tidak datang menyumbang ketika ia menyelenggarakan perhelatan, mereka pun akan "dibalas" dengan sikap yang sama. Tragis!

Fakta di atas merupakan bukti tradisi sorogan di sekitar Kebumen sebelah lor belakangan banyak menyimpang dari tujuan semula. Dampaknya negatif, karena menyusahkan kawulo alit (wong cilik) yang penghasilannya kecil dan tidak menentu.
Sepintas kenyataan itu terasa absurd, sulit dimengerti akal sehat, karena berkembang di lingkungan rakyat desa atau masyarakat lapisan bawah yang dulu terkenal dengan tradisi gotong-royong, ramah-tamah, guyub-rukun, tenggang rasa, silih asih, asah dan asuh. komentar Anda

8 comments:

Budhi mengatakan...

Tes comment

Kang Suhar mengatakan...

Sepakat Kang.. di Kedungwaru tradisi sorogan atau punjungan mungkin tak separah Peniron. Di Peniron ketika 1 keluarga dapat sorogan maka seperti keharusan suami istri harus sama2 kondangan. Jika pake uleman/undangan maka cukup salah 1 saja.
Di Peniron tradisi punjungan dan kondangan juga makin tidak sehat dan sangat memberatkan secara ekonomi.
Pemdes, BPD dan LKMD sudah mencoba merubah tp blm bisa merubah sampe skrg. Tapi saya yakin Mas, hal ini pasti berhasil walau entah kapan.
Dawa banget ya?? Soale lg marem kondangan kiye.. artikele rika timing e pas! hehe

budi mengatakan...

Pada bae aku kang suhar, dina siki aku wong loro, nek 20 ewuan kan wis ketol 40 ewu,pancen mbuneki banget

untung mengatakan...

untuk kehidupan di kota seperti saya gak ada yang namanya sorogan, paling hanya undangan aja.kalau seperti yang mas budi tulis di atas, sungguh tragis untuk kehidupan di desa kok sudah demikian parah, tp walaubagaimanapun namanya tradisi susah untuk di hilangkan.. salam

dery Fadil mengatakan...

Apa pemerintah desa sudah berupaya untuk menghentikan Tradisi tersebut bang? kasihan sama bapak lamkarta, yang hanya buruh tani kecil, kl tiap hari ada undangan 3 aja... aduh sungguh membuat sengsara...

budi mengatakan...

ya begitulah adanya tradisi di kampung saya mas Untung,

mas dery , saya belum pernah komfirmasi ke pihak desa, apakah mereka bisa menghentikan Tradisi yang sudah ada sejak jaman doeloe..

Anonim mengatakan...

sorogan itu seperti menyuap ya mas

kedungwaru mengatakan...

Bapak2,Tradisi sorogan lama kelamaan akan luntur,dikarenaka pengaruh dari lingkungan luar

Poskan Komentar

Template by : kendhin x-template.blogspot.com